Beberapa dari kita pasti tidak asing mendengar “fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara”. Ya. Itulah bunyi dari Undang-undang Dasar (UUD) 1945 Pasal 34 Ayat 1. Di bangku Sekolah Dasar (SD), saya sempat menghafalnya.
Pertanyaannya, sekedar hafalankah? Makin beranjaknya umur, saya sadar ayat dalam UUD 1945 adalah janji Negara Indonesia bagi masyarakatnya. Yang namanya janji, tentu harus dipenuhi. Sayangnya, saya belum melihat penggenapan janji Negara untuk ayat tersebut, yakni memelihara fakir miskin dan anak terlantar.
Hampir di setiap lampu merah, fakir miskin dan anak terlantar menantikan penggenapan janji Negara. Sebelum janji—yang mungkin sebatas janji palsu—dipenuhi, mereka berusaha menyambung hidup dengan meminta belas kasihan insan-insan bermotor atau bermobil pribadi, bahkan meratap pada mereka yang memanfaatkan fasilitas kendaraan umum. Hari demi hari dijalani mereka seperti itu. Jalan dari satu kendaraan ke kendaraan lainnya sambil menadahkan tangan dan menerima banyak penolakan. Sambil tentunya mereka tetap menantikan penggenapan janji yang tercantum dalam UUD 1945.
Dalam pasal 34 ayat 1, Negara dijadikan pihak yang bertanggung jawab. Negara sendiri terdiri dari pemerintahan dan rakyat. Rakyat, berarti kitapun termasuk di dalamnya. Secara tidak langsung, kita—insan yang terlahir lebih beruntung dari fakir miskin dan anak jalanan—ikut bertanggung jawab akan penggenapan pasal 34 ayat 1 UUD 1945 yang selama ini masih sekedar janji palsu.
Bila tidak bisa berperan langsung memelihara fakir miskin dan anak terlantar, setidaknya masyarakat dapat ikut bertanggung jawab berkontribusi bagi pemerintah supaya janji palsu itu tidak sekedar wacana. Sebagai warga negara yang baik, mungkin kita dapat membantu dengan membayar pajak tepat waktu, membayarkan nilai yang sesuai. Juga bagi setiap pekerja sekiranya bekerja dengan baik dan tidak melakukan korupsi supaya dana anggaran untuk memelihara fakir miskin dan anak terlantar dapat tersalurkan.
Fakir miskin dan anak terlantar yang sehari-hari kita lihat di jalanan adalah warga negara Indonesia juga, sama seperti kita. Undang-undang Dasar 1945 berlaku sama bagi kita dan mereka. Bagi kita—insan-insan beruntung—bunyi UUD 1945 Pasal 34 Ayat 1 hanyalah sekedar hafalan belaka. Tapi bagi fakir miskin dan anak terlantar, bunyi ayat tersebut merupakan secercah harapan bagi mereka mendapatkan kedidupan yang lebih baik. Mereka menanti dan terus menanti penggenapan janji itu. Bagi mereka sekarang, kalimat itu hanya sebatas janji palsu yang tak satupun tahu kapan penggenapannya akan datang. Oh, miris! Betapa kontrasnya negeri ini.
Bandung, Indonesia. mid July 2011. nearly one year ago. (several days to) BSc graduation.
I was just showing this picture as part of my International 16 presentation here in Salford and was explaining how 5 of us finally ended in 4 different time zones, until a friend spotted something, interrupted me and said,
“I see the picture of you jump as if you’re…. taking off. as if you’re taking off to where each of your dreams are.”
then I stopped talking for a moment, I looked at us, and I couldn’t help but to smile.
how I really miss you beautiful-minded people.
It is almost one year since I graduate from my university. Institut Teknologi Bandung (ITB), a place where I learnt many things. Not only academics side, but also learning about life and getting true friends.
One thing that I can’t forget is an event occurred only two days before my graduation day. An email that successfully made me shocked and lost hope about my future. A phone call that made me couldn’t stop crying. It was just really shocking and made me speechless.
That day, my tear couldn’t stop getting out from my eyes. I damped my friend’s shirt which he wore for the pre-graduation night. I’m sorry for that.
No words came out from my mouth. The tear spoke my feeling at all.
Next day, I was still crying and depressed. I tried to be looked strong outside, but broken inside.
Then the graduation day came. I was almost successful hiding my sadness. I was successful not crying in front of my friends, until… My close friends gave me this book. (see pictures)
A book written by my close friends that I met in Engineering Physics ITB. Let me call them one of my inner circle.
When they gave me that one, I became speechless. I was surprised they made an undercover project just to see me smile. They also recorded video, yeah, they sang HERO from Mariah Carey that made me speechless when I saw it. I cried and couldn’t say nothing, but thank you.
I love you all, my friends! Without you, maybe I hadn’t been moved on from that event.
I know life is cruel, but God makes it a way to process His every child. He also sends angles to everyone’s life, and you’re all my angles. Love you all….
Kiss and hugs,
Your dedeeee~~~ ^____^
| Agrippa: | Are you trying to talk me into becoming a Christian? Do you think you can do that in such a short time? |
| Paul: | I don't care if it takes a short time or a long time. I pray to God for you and all who are listening to me today. I pray that you may become like me, except for these chains. |
| Taken from Acts 26: | 28-29 (NIrV) |
| Inilah percakapan yang terjadi di ruang OSIS sewaktu kami masih duduk di bangku SMP. | |
| Karena di ruang OSIS belum ada jam dinding, aku meminta tolong bendahara OSIS untuk membelikan sebuah jam dinding. | |
| Pada suatu siang, | |
| Samsu: | Jadi mw jam dinding buat ruang OSIS? |
| Renata: | Jadi, Su.. |
| Samsu: | Ok. Mau yang warna apa? |
| Renata: | Biru. |
| Samsu: | Trus, mw ada gambarnya apa engga? |
| Renata: | Mau. |
| Samsu: | Apa gambarnya? |
| Renata: | Winnie the Pooh! |
| Samsu: | Nih! (*Sambil mengeluarkan sebuah jam dinding berwarna biru dan di tengahnya ada gambar Winnie the Pooh.) |
| Renata: | Wow! |
| Samsu!!! You're amazing! |